Langsung ke konten utama

Postingan

- Dia dan Aku, Kamu dan Dia - Dimana mesti kuletakan hati... Jika disini tak tertampung lagi... Tapi tak kuasa menjaga kesetiaan berseri... Ada ingatan lain diantara hangat peluk mu... Tak pernah bisa ku sapu... Mengikat seluruh jiwaku... Sebelum ketahuan... Dirundung penyesalan... Lepaskan... Kita hanya lupa diri... Saling memberi empati... Karena terlalu sering komunikasi... Esok jangan lagi ada rasa... Kita sudah punya yang berhak dicinta ... Kamu dan dia, pun Aku jua... Dan kisah kita... Cukup sampai disini saja... Terkemas dalam sebuah rahasia... -Purnama- Rabu, 14 Agustus 2019
Postingan terbaru
- Dokumen Lama- Lihat, siapa yang datang Jum'at, 15 Januari 2016... Dia Kekasihku, bersama para malaikat... Apa yang dia bawa ? Bukan cincin, bukan bunga, dan bukan lagi cinta... Dia adalah sejumlah kata, sumpah janji sakral mengikat hidup halal... Bukanlah sederhana, ini terjadi karena aku mencintainya.. dan telah jatuh berkali-kali, dan dia mengunakan cinta ini sebagai candu agar tidak sakau setiap hari... "Kamu cantik sayang," kata dia sembari tersenyum secerah baju biru muda yang dikenakannya malam Sabtu itu... Aku tidak harus tau apa yang ku rasakan... Biar dia melihat sendiri hembusan angin surga dalam mata yang bicara, dan menceritakannya padaku... _Purnama_

-Berikan Puisi ini pada Suamiku-

-Berikan Puisi ini pada Suamiku- Hujan Deras turun di sela malam, Diarak Gemuruh dan Angin, Yang menerbangkan rindu, Di dahan asa. Aku yang terjaga, Temangu di kamar memangku anakku, Menatap layar ponsel, Yang sunyi penantian, Lalu terbanyanglah wajahmu, Tempatku berteduh, Tempat bermanja, Tempatku merasa takut kehilangan. Kau tak memahami kesendirianku, Kau tak akan merasakan kerinduanku, Tak tau bagaimana membayangkan kebersamaan denganmu, Sebagai penderitaan. Ketika lamunan ini harus tergusur, Oleh panggilan anakku, Aku harus menahan diri, Dari harapanku. Engkau yang mulia, Yang penuh kelembutan, Pada titian waktu yang terukir, Sampaikanlah, wahai Tuanku yang disanjung, Puisi ini pada suamiku yang tercinta. Dalam rindu yang tak terkatakan, Aku merintih, Tolong... Tuanku, Hembuskanlah angin kata, Untuk menyentuh hatinya dengan lembut. -purnama-

Surat Cinta

Selamat Hari yang Mulia... Lima tahun bersama bukanlah hal yang mudah... Butuh kerja keras untuk membuatnya selalu harmonis... Hal besar, hal kecil, banyak yang menjadi penuh persoalan... Lima tahun bersama tak cukup hanya berdoa... Namun juga butuh tenaga... Untuk mendapati manis setiap harinya.... Lima tahun bersama ini Aku mulai mendalami peranku... Sebagai pasanganMu, sebagai IstriMu, sahabatMu, juga abdiMu... BersamaMu, Tak pernah ragu akan kesetiaanmu... Tak pernah berpikir cemburu... dan Tak mau sekalipun menganggu rahasiamu... Karena Allah Ku tau tentang Kamu... Ada rencana Allah, sehingga Kamu menjadi ImamKu... Semoga, Lima tahun berikutnya, aku masih sama... Tak pernah meragukan cintamu... "Happy 5 Wedding Anniversary" _Mas Mahardi Rohim_     -        P u r n a m a   - 

Termenung

-Termenung- Terpegun digelita malam.... Menciptakan delusi sendiri, yang kemudian tersesat didalamnya... Kesendirian kian menjadi tontonan masa, membuat impian teronggok sulit dicerai... Ku rindukan,Ku nantikan seorang yang datang bukan dengan Cintanya... Tapi dengan amanat Tuhan nya yang menitipkan Cinta untukku... -purnama- (27 Februari 2018)

Hanya Tangis

-Hanya Tangis- Aku hanya bisa bersikap seperti bayi... Menangis untuk menarik perhatianmu... Kalau cara ini salah, aku harus apa?... Katamu, Cinta itu tidak hanya dapat diukur dengan banyaknya kalimat cinta... Kendati begitu, secara tersembunyi dan dari kejauhan aku sering bercengkrama dengan Nya menceritakan tentangmu... Aku berkata kata kata setiap waktu... Aku merayu Nya, agar jangan mengambilmu dariku... Karena aku terlalu mencintaimu... Dan tidak ada yang boleh membelaimu sekalipun itu angin... Sampai tak terasa air mata tergenang  diatas tadahan tanganku... Apakah aku salah telah banyak kata ? Telah ku coba hal lain... Seperti ingin berlari...tapi hanya mematahkan kaki ku saja... Ingin ku berada di tengah hujan...tapi hanya membuatku tenggelam... Ingin aku diam...tapi tak bisa... Kalau begitu...Hanya tangis... Hanya dengan tangis dihadapan kiblatku... - purnama - (Lima tahun silam)

Dari 1980 hingga 2021, Budaya Arisan Tak Pernah Padam

Arisan : Ajang Riya Antar Insan  “Budaya Arisan Sebagai Wujud Interaksi Sosial, Berubah Menjadi Gaya Hidup" (Foto dokumentasi arisan sebelum Pandemi Covid) PADA setiap kelompok masyarakat dikenal aktivitas penghimpunan dana secara teratur pada periode tertentu yang disebut sebagai arisan. Fenomena Arisan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia, yang berfungsi sebagai sistem untuk menyimpan dana diluar bentuk ekonomi formal. Arisan mengacu kepada sebuah pertemuan sosial yang unik. Dimana sekelompok keluarga, teman-teman bertemu untuk melakukan undian yang diperolah dari setiap anggota yang sudah mendepositokan jumlah tetap sebesar uang. Aktivitas c ontinue  ini bisa dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja, bahkan sudah menjadi suatu hal yang dianggap lumrah seluruh masyarakat Indonesia.  Bagaimana tidak, praktik ini sudah terjadi sejak dahulu kala oleh kalangan eyang-eyang, namun kini semakin marak malah didominasi ibu muda hingga kawula m...