Langsung ke konten utama

Aktivitas Olahraga Ditengah Pandemi

-Yang Tadinya Sunah Menjadi Wajib-


"Berenang aman bagi Ibu Hamil saat Pandemi. Terlebih, merupakan salah satu olahraga yang dianjurkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadist"




Sudah pertengahan Januari 2021, hampir satu tahun sejak pertama kali pandemi hadir di Indonesia. Dimana deteksi awal pada 2 Maret 2020 dua orang Indonesia terkonfirmasi tertular Covid-19, kemudian pecah dan menyebar ke 34 Provinsi lainnya.

Pada saat pemerintah mengumumkan pembatasan sosial, khususnya di Bandar Lampung. Setiap waktu dijalani terasa lambat, dan beberapa aktivitas umumnya menjadi terhambat. Belum lagi rasa ke khawatiran terhadap diri dan keluarga yang selalu melekat.

Tahun lalu, terasa berbeda, namun harus menjadi biasa. Bukan karena pandemi saja, tapi banyak sesuatu yang mengukir cerita, khusunya Cinta dan Olahraga. Mengapa?


C I N T A 

Banyak yang bisa dipetik dan dijalani setiap harinya dengan bahagia. Misalnya, kumpul dengan keluarga. Yang tadinya aktivitas dirumah dilakukan sendiri menjadi bersama-sama. Makan bersama, main bersama, olahraga bersama dan lainnya.

Ditambah pula terasa hangat ketika sebuah harapan terpelihara sehingga menghasilkan doa-doa yang sama. Saking seringnya bersama, saya pun hamil anak kedua. Sehingga saya dialogkan kepada diri sendiri, bahwa ini menjadi bukti cinta yang merebak ditengah pandemi virus corona.


O L A H R A G A 

New Normal mengarahkan kita untuk menjalankan kebiasaan baru tidak lepas dari protokol kesehatan. Hidup sehat yang pastinya menjadi fokus utama, salah satu diantaranya berolahraga.

Saya yang merupakan seorang Ibu Rumah Tangga, Ibu yang bekerja, Mahasiswa, bahkan sekarang Ibu Hamil, harus menjadi seorang yang ekstra proteksi terhadap keluarga. Salah satunya menjadwalkan kegiatan berolahraga yang tadinya sunah kini menjadi wajib.

Apalagi, berenang bagi ibu hamil merupakan aktivitas fisik yang memiliki risiko minimal dan terbukti bermanfaat. Yang terpenting aman dilakukan ditengah pandemi. Berenang merupakan olahraga yang menyehatkan sekaligus menyenangkan, bisa dilakukan segala kalangan usia. Apalagi berenang dipagi hari bisa dilakukan sambil berjemur.


Renang ternyata merupakan salah satu olahraga yang dianjurkan Rasulullah. Dimana sebuah hadist menyebutkan, dari Jabir bin Abdillah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan. Kecuali empat perkara, yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan berenang,” (HR. An-Nasa’i)

Jadi, jika ingin mencari ketenangan sekaligus kesehatan di tengah Pandemi Era New Normal ini, olahraga berenang dapat menjadi opsi. Sebab, berenang dapat memberikan efek relaksasi.

Meskipun tidak begitu sering, namun olahraga berenang saya jadualkan untuk dilakukan bersama keluarga. 


Lihat langsung keseruannya di laman YouTube Purnama Mahardi https://youtu.be/Du3IcRXPfdM

_ P U R N A M A _

(Jumat, 15 Januari 2021)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu

-Rindu- Malam ini rindu mengetuk kelopak mataku...   Agar ku buka sehingga kau bisa bertamu...           Lagi, dirimu datang menggelitik kalbu... Cengar-cengir, merusak tidurku... Ku ambil handphone mencoba menghubungimu... Tak tau harus bilang apa, hanya tertunduk dungu...       Tidak ada sepucuk kata yang mampu mencurahkan rindu... Hanya mata dan rasa yang bisa bicara..Melalui tangis serta duka... -Purnama-

-Berikan Puisi ini pada Suamiku-

-Berikan Puisi ini pada Suamiku- Hujan Deras turun di sela malam, Diarak Gemuruh dan Angin, Yang menerbangkan rindu, Di dahan asa. Aku yang terjaga, Temangu di kamar memangku anakku, Menatap layar ponsel, Yang sunyi penantian, Lalu terbanyanglah wajahmu, Tempatku berteduh, Tempat bermanja, Tempatku merasa takut kehilangan. Kau tak memahami kesendirianku, Kau tak akan merasakan kerinduanku, Tak tau bagaimana membayangkan kebersamaan denganmu, Sebagai penderitaan. Ketika lamunan ini harus tergusur, Oleh panggilan anakku, Aku harus menahan diri, Dari harapanku. Engkau yang mulia, Yang penuh kelembutan, Pada titian waktu yang terukir, Sampaikanlah, wahai Tuanku yang disanjung, Puisi ini pada suamiku yang tercinta. Dalam rindu yang tak terkatakan, Aku merintih, Tolong... Tuanku, Hembuskanlah angin kata, Untuk menyentuh hatinya dengan lembut. -purnama-

Hanya Tangis

-Hanya Tangis- Aku hanya bisa bersikap seperti bayi... Menangis untuk menarik perhatianmu... Kalau cara ini salah, aku harus apa?... Katamu, Cinta itu tidak hanya dapat diukur dengan banyaknya kalimat cinta... Kendati begitu, secara tersembunyi dan dari kejauhan aku sering bercengkrama dengan Nya menceritakan tentangmu... Aku berkata kata kata setiap waktu... Aku merayu Nya, agar jangan mengambilmu dariku... Karena aku terlalu mencintaimu... Dan tidak ada yang boleh membelaimu sekalipun itu angin... Sampai tak terasa air mata tergenang  diatas tadahan tanganku... Apakah aku salah telah banyak kata ? Telah ku coba hal lain... Seperti ingin berlari...tapi hanya mematahkan kaki ku saja... Ingin ku berada di tengah hujan...tapi hanya membuatku tenggelam... Ingin aku diam...tapi tak bisa... Kalau begitu...Hanya tangis... Hanya dengan tangis dihadapan kiblatku... - purnama - (Lima tahun silam)