Langsung ke konten utama

Berkenalan Dengan Seni Lampung Gitar Klasik

"Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung"

(Wali Kota Bandar Lampung Herman HN sedang memetik Gitar Tunggal, Seni Gitar Klasik Lampung / Foto Dokumentasi Humas Pemkot)


Bagi penduduk Lampung, Kesenian Tradisional Gitar Klasik dengan lantunan lagu daerah Sai Bumi Ruwa Jurai sudah tidak asing lagi. Namun tidak semua warga tau kesenian berupa vokal instrumental asal Tulang Bawang tersebut, termasuk Saya.

Oleh sebab itu, Saya akan berkenalan dengan Seni Tradisi Lampung Gitar Klasik yang ternyata bisa Saya temui dengan mudah di Bandar Lampung, serta masih dilestarikan tidak hanya kalangan orang tua, namun juga kaum milenial.

Dilansir dari beberapa sumber di Google, Gitar klasik Lampung adalah suatu bentuk kecerdasan setempat masyarakat Tulang Bawang terhadap unsur kebudayaan yang masuk, dan diyakini adalah bentuk akulturasi antara kesenian peninggalan Portugis, Belanda, dan Melayu Islam dengan muatan asli Lampung, setara dengan musik Keroncong di Jawa.

Gitar klasik Lampung adalah jenis seni pertunjukan vokal instrumental yang telah lama menjadi alat ungkap dan bagian kehidupan masyarakat Tulang Bawang.


(Foto penggiat seni Gitar Klasik Lampung, di Sanggar Keratuan Lampung)



- Ragam Budaya Lampung -

Lampung  salah satu Provinsi yang kaya akan adat kebudayaan dan seni. Hal tersebut timbul dan berkembang dengan memiliki keunikan dan kekhasan yang secara masing-masing berbeda-beda.

Provinsi Lampung juga dihuni beragam macam suku dan ras. Dengan begitu, sebagai seorang yang lahir, menetap dan tinggal di Lampung wajib mengetahui kebudayaan di Lampung.

Seperti kata Pepatah "Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit di Junjung". Maka, meskipun Saya bersuku Jawa Tengah. Karena lahir dan besar di Lampung, Saya akan mengenali satu persatu kebudayaan yang ada di Lampung.  


(Foto para seniman Gitar Klasik Lampung)


Langkah awal mengenal kebudayaan Gitar Klasik ini, Saya mengunjungi salah satu lokasi sebagai sanggar kesenian Gitar Klasik Lampung. Di Jalan Indra Bangsawan Nomor. 17 Rajabasa, Bandar Lampung inilah sebuah sanggar bernama ‘Keratuan Lampung’ berdiri. Bangunan tersebut masih berfungsi sebagai tempat latihan para seniman Gitar Klasik yang didominasi kawula muda.

Saya, bahkan kagum dengan muda-mudi yang masih sadar akan pelestarian kesenian dari budaya Lampung tersebut. Mereka rela meluangkan waktunya setiap malam Sabtu untuk melakukan latihan, mulai dari pukul 20.00 wib sampai dengan 23.00 wib.

Secara bergantian, mereka unjuk gigi kebolehan memetik gitar dan menyanyikan Lagu tradisional Lampung yang memadukan antara syair lagu yang sarat akan makna kehidupan masyarakat. Diiringi petikan gitar klasik dari Lampung Abung, Lampung Pubian dan Lampung Pesisir.


(Foto Nila Riyanti, Vocalis seniman Gitar Klasik)


- Gadis Lampung -

Saya mewawancara salah satu penggiat seni Gitar Klasik Lampung yang bernama Nila Riyanti A. Md. T.P,. Perempuan usia 23 tahun ini mengaku sudah lama berkecimpung di dunia seni Gitar Klasik Lampung, kecintaannya terhadap kesenian gitar klasik ini terbentuk saat Ia duduk dibangku kelas 6 SD.

"Kenapa Nila tertarik dengan kesenian Lampung yang utama karena Nila sendiri merupakan gadis Lampung dan lahir di dalam kalangan adat Lampung. Sehingga nila secara langsung mengenali tentang adat istiadat Lampung sejak Nila kelas 6 SD," jelas gadis bersuku Lampung Pubian tersebut.

Nila menyebut, Kesenian Lampung sangat beragam tidak hanya gitar klasik Lampung saja, namun ada pula yang dinamakan pantun cangget, pantun setinbalan, pisaan, bubandung, hawayang, warahan, ngehidu. Namun yang masih terus aktif dilakoni secara rutin seni Gitar Klasik Lampung dan pembacaan Pisaan.

Warga yang tinggal di Jalan Indra Bangsawan Gang A Hamid, Rajabasa, Bandar Lampung ini juga pernah mengikuti kompetisi Gitar Klasik Lampung yang digelar Pemerintah Kota (Pemerintah) Bandar Lampung pada Januari 2020. Dengan menjadi perserta terbaik ke 2 dari 10 penampilan terbaik.

(Foto dokumentasi seniman, ketika menerima penghargaan pada gelaran Festival Gitar Klasik Lampung)


Raihan prestasi tersebut membuatnya semakin semangat memperbaiki keahlian dalam seni Lampung dan terus berusaha untuk mendalami, menjiwai agar prestasi yang diraih lebih baik lagi kedepan.

"Waktu acara yang digelar Pemkot Nila bawakan lagu ciptaan Nila sendiri mbak, yang judulnya Pisah Anjak Sekula (pisah dari sekolah)," terangnya.

Nila menjelaskan untuk belajar olah vocal lantunan syair Lampung tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya perlu kemauan dan gerakan serta konsistensi berkecimpung didalamnya.

"Sebenarnya susah mudah itu tergantung dari kita sendiri mbak gimana cara kita belajarnya. Kalau menurut Nila memang sedikit dibutuhkan ekstra kesabaran, tapi bisa diatasi kalau benar-benar ditekuni," pungkas Nila.

(Foto Dokumentasi Festival Gitar Klasik Lampung pada Januari 2020 / sumber Google)

-P U R N A M A-

(Selasa, 19 Januari 2021)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu

-Rindu- Malam ini rindu mengetuk kelopak mataku...   Agar ku buka sehingga kau bisa bertamu...           Lagi, dirimu datang menggelitik kalbu... Cengar-cengir, merusak tidurku... Ku ambil handphone mencoba menghubungimu... Tak tau harus bilang apa, hanya tertunduk dungu...       Tidak ada sepucuk kata yang mampu mencurahkan rindu... Hanya mata dan rasa yang bisa bicara..Melalui tangis serta duka... -Purnama-

-Berikan Puisi ini pada Suamiku-

-Berikan Puisi ini pada Suamiku- Hujan Deras turun di sela malam, Diarak Gemuruh dan Angin, Yang menerbangkan rindu, Di dahan asa. Aku yang terjaga, Temangu di kamar memangku anakku, Menatap layar ponsel, Yang sunyi penantian, Lalu terbanyanglah wajahmu, Tempatku berteduh, Tempat bermanja, Tempatku merasa takut kehilangan. Kau tak memahami kesendirianku, Kau tak akan merasakan kerinduanku, Tak tau bagaimana membayangkan kebersamaan denganmu, Sebagai penderitaan. Ketika lamunan ini harus tergusur, Oleh panggilan anakku, Aku harus menahan diri, Dari harapanku. Engkau yang mulia, Yang penuh kelembutan, Pada titian waktu yang terukir, Sampaikanlah, wahai Tuanku yang disanjung, Puisi ini pada suamiku yang tercinta. Dalam rindu yang tak terkatakan, Aku merintih, Tolong... Tuanku, Hembuskanlah angin kata, Untuk menyentuh hatinya dengan lembut. -purnama-

Hanya Tangis

-Hanya Tangis- Aku hanya bisa bersikap seperti bayi... Menangis untuk menarik perhatianmu... Kalau cara ini salah, aku harus apa?... Katamu, Cinta itu tidak hanya dapat diukur dengan banyaknya kalimat cinta... Kendati begitu, secara tersembunyi dan dari kejauhan aku sering bercengkrama dengan Nya menceritakan tentangmu... Aku berkata kata kata setiap waktu... Aku merayu Nya, agar jangan mengambilmu dariku... Karena aku terlalu mencintaimu... Dan tidak ada yang boleh membelaimu sekalipun itu angin... Sampai tak terasa air mata tergenang  diatas tadahan tanganku... Apakah aku salah telah banyak kata ? Telah ku coba hal lain... Seperti ingin berlari...tapi hanya mematahkan kaki ku saja... Ingin ku berada di tengah hujan...tapi hanya membuatku tenggelam... Ingin aku diam...tapi tak bisa... Kalau begitu...Hanya tangis... Hanya dengan tangis dihadapan kiblatku... - purnama - (Lima tahun silam)