Langsung ke konten utama

curahan rembulan


-Patah Hati-

Saat bersama aku kerap terluka...
Namun Kepergianmu meninggalkan duka...

Mengapa begitu tega...
merantai hatiku, belenggu pikiranku lalu menjerat ku dalam nestapa...

Kalau bisa kembali kemasanya...
Aku pilih tetap menjadi hina...
Tak perlu diangkat untuk binasa...

Tidak apa-apa...
Aku seperti menjadi terbiasa...
Saat dipermainkan rasa...

-purnama-
(12 Agustus 2019)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu

-Rindu- Malam ini rindu mengetuk kelopak mataku...   Agar ku buka sehingga kau bisa bertamu...           Lagi, dirimu datang menggelitik kalbu... Cengar-cengir, merusak tidurku... Ku ambil handphone mencoba menghubungimu... Tak tau harus bilang apa, hanya tertunduk dungu...       Tidak ada sepucuk kata yang mampu mencurahkan rindu... Hanya mata dan rasa yang bisa bicara..Melalui tangis serta duka... -Purnama-

-Berikan Puisi ini pada Suamiku-

-Berikan Puisi ini pada Suamiku- Hujan Deras turun di sela malam, Diarak Gemuruh dan Angin, Yang menerbangkan rindu, Di dahan asa. Aku yang terjaga, Temangu di kamar memangku anakku, Menatap layar ponsel, Yang sunyi penantian, Lalu terbanyanglah wajahmu, Tempatku berteduh, Tempat bermanja, Tempatku merasa takut kehilangan. Kau tak memahami kesendirianku, Kau tak akan merasakan kerinduanku, Tak tau bagaimana membayangkan kebersamaan denganmu, Sebagai penderitaan. Ketika lamunan ini harus tergusur, Oleh panggilan anakku, Aku harus menahan diri, Dari harapanku. Engkau yang mulia, Yang penuh kelembutan, Pada titian waktu yang terukir, Sampaikanlah, wahai Tuanku yang disanjung, Puisi ini pada suamiku yang tercinta. Dalam rindu yang tak terkatakan, Aku merintih, Tolong... Tuanku, Hembuskanlah angin kata, Untuk menyentuh hatinya dengan lembut. -purnama-

Hanya Tangis

-Hanya Tangis- Aku hanya bisa bersikap seperti bayi... Menangis untuk menarik perhatianmu... Kalau cara ini salah, aku harus apa?... Katamu, Cinta itu tidak hanya dapat diukur dengan banyaknya kalimat cinta... Kendati begitu, secara tersembunyi dan dari kejauhan aku sering bercengkrama dengan Nya menceritakan tentangmu... Aku berkata kata kata setiap waktu... Aku merayu Nya, agar jangan mengambilmu dariku... Karena aku terlalu mencintaimu... Dan tidak ada yang boleh membelaimu sekalipun itu angin... Sampai tak terasa air mata tergenang  diatas tadahan tanganku... Apakah aku salah telah banyak kata ? Telah ku coba hal lain... Seperti ingin berlari...tapi hanya mematahkan kaki ku saja... Ingin ku berada di tengah hujan...tapi hanya membuatku tenggelam... Ingin aku diam...tapi tak bisa... Kalau begitu...Hanya tangis... Hanya dengan tangis dihadapan kiblatku... - purnama - (Lima tahun silam)