Langsung ke konten utama

Olahraga Favorit yang Jadi Populer

"Mewariskan Kegemaran Berenang Dari Generasi Ke Generasi"


(foto Mama dan Arby saat berenang)


"Mama, Arby mau berenang lhoo," kalimat tersebut merupakan ajakan dari Arby yang kerap saya dengar selama masa pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19.

Memang sejak mulanya pandemi muncul di Indonesia Maret 2020, anak laki-laki usia 3 tahun itu enggak pernah lagi keluar rumah.

Ketika dikeluarkannya kebijakan pemerintah di era adaptasi kebiasaan baru, dimana sudah boleh beraktivitas normal dengan syarat penerapan 3M (Memakai Masker, Mencuci tangan atau siaga Handsanitizer, Menjaga Jarak Fisik) Arby kembali bisa melakukan kegiatan diluar. Namun tetap ke lokasi yang tidak telalu ramai pengunjung.

(Foto moment kebersamaan Mama dan Arby bisa berenang usai lockdown)


Mama dan Arby Baper

Keinginan dan ajakan Arby untuk berenang karena baper. 

Saking demennya berenang, sampai saya membeli vocer diskonan disalahsatu waterpark di Bandar Lampung. Nah, setiap kali melihat vocer tersebut Arby jadi baper, selalu ngajak berenang. Saya pun sebenarnya sudah dahaga akan hiburan dan piknik. 

Lantaran, sebelum menyeruak kasus koronavirus, aktivitas renang kerap dilakukan. Di waterpark, di gelanggang olahraga, sampai di laut. 

Meskipun gaya berenangnya tidak profesional, namun efektif untuk membakar kalori, menghilangkan stres dan banyak manfaat lainnya yang sangat baik bagi tubuh.

(dokumentasi foto Ayah dan Arby saat berenang di laut)


Jadi Favorit Keluarga 

Yah, memang renang merupakan kegiatan olahraga terfavorit keluarga, dan menjadi populer dari generasi ke generasi. Ibu dan bapak saya yang umurnya sudah lebih dari setengah abad juga masih hobi berenang.

Dari sewaktu saya SMP, saya tidak pernah melewatkan absen renang. Akhirnya sampai saya menikah dan kehamilan pertama, saya masih terus melakukan olahraga renang.

Setelah melahirkan, dan Arby berusia 5 bulan saya pun memulai kembali aktivitas terfavorit tersebut. Saya membawa Arby berenang di kolam, syukurnya Arby tidak rewel dan malah bersenang-senang.

(foto dokumentasi Arby berenang mulai usia 5 bulan)



Memang, tujuan saya mengajarkan anak olahraga sejak dini. Agar dapat membantunya membangun pola hidup sehat sejak kecil. Meski bukan sebuah kewajiban, akan tetapi, banyak manfaat yang akan didapatkan seperti tubuh anak yang sehat, fisik yang kuat, dan disiplin.


Alhamdulillah, suami, anak, ponakan bahkan orang tua saya pun memfavoritkan olahraga renang ini. Karena selain berguna untuk kesehatan fisik dan dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang secara keseluruhan, berenang merupakan aktivitas rekreasional yang dilakukan untuk bersenang-senang.

(foto bersama keluarga)

Lihat keseruannya di laman resmi YouTube Purnama Mahardi dengan mengklik link : https://youtu.be/Brif6fe6hwA

- P U R N A M A -

(Sabtu, 16 Januari 2021)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu

-Rindu- Malam ini rindu mengetuk kelopak mataku...   Agar ku buka sehingga kau bisa bertamu...           Lagi, dirimu datang menggelitik kalbu... Cengar-cengir, merusak tidurku... Ku ambil handphone mencoba menghubungimu... Tak tau harus bilang apa, hanya tertunduk dungu...       Tidak ada sepucuk kata yang mampu mencurahkan rindu... Hanya mata dan rasa yang bisa bicara..Melalui tangis serta duka... -Purnama-

-Berikan Puisi ini pada Suamiku-

-Berikan Puisi ini pada Suamiku- Hujan Deras turun di sela malam, Diarak Gemuruh dan Angin, Yang menerbangkan rindu, Di dahan asa. Aku yang terjaga, Temangu di kamar memangku anakku, Menatap layar ponsel, Yang sunyi penantian, Lalu terbanyanglah wajahmu, Tempatku berteduh, Tempat bermanja, Tempatku merasa takut kehilangan. Kau tak memahami kesendirianku, Kau tak akan merasakan kerinduanku, Tak tau bagaimana membayangkan kebersamaan denganmu, Sebagai penderitaan. Ketika lamunan ini harus tergusur, Oleh panggilan anakku, Aku harus menahan diri, Dari harapanku. Engkau yang mulia, Yang penuh kelembutan, Pada titian waktu yang terukir, Sampaikanlah, wahai Tuanku yang disanjung, Puisi ini pada suamiku yang tercinta. Dalam rindu yang tak terkatakan, Aku merintih, Tolong... Tuanku, Hembuskanlah angin kata, Untuk menyentuh hatinya dengan lembut. -purnama-

Hanya Tangis

-Hanya Tangis- Aku hanya bisa bersikap seperti bayi... Menangis untuk menarik perhatianmu... Kalau cara ini salah, aku harus apa?... Katamu, Cinta itu tidak hanya dapat diukur dengan banyaknya kalimat cinta... Kendati begitu, secara tersembunyi dan dari kejauhan aku sering bercengkrama dengan Nya menceritakan tentangmu... Aku berkata kata kata setiap waktu... Aku merayu Nya, agar jangan mengambilmu dariku... Karena aku terlalu mencintaimu... Dan tidak ada yang boleh membelaimu sekalipun itu angin... Sampai tak terasa air mata tergenang  diatas tadahan tanganku... Apakah aku salah telah banyak kata ? Telah ku coba hal lain... Seperti ingin berlari...tapi hanya mematahkan kaki ku saja... Ingin ku berada di tengah hujan...tapi hanya membuatku tenggelam... Ingin aku diam...tapi tak bisa... Kalau begitu...Hanya tangis... Hanya dengan tangis dihadapan kiblatku... - purnama - (Lima tahun silam)